Tabrakan Kereta Api di Batavia Bikin Geger, 24 Orang Tewas

otret kecelakaan kereta api pertama dan terbesar di Indonesia masa kolonial pada 2 April 1914. Sumber: Koran Haagsche courant edisi 07-05-1914)

Penulis: M Fakhriansyah

Tak banyak yang tahu kecelakaan kereta pertama di Indonesia ternyata sudah terjadi lebih dari seabad lalu, tepatnya pada 1914. Menariknya, penyebab kecelakaan tersebut bukan karena tabrakan antarkereta atau kerusakan teknis, melainkan gara-gara seekor kerbau yang tiba-tiba melintas di rel.

Pada 2 April 1914, warga Batavia (kini Jakarta) dihebohkan oleh kecelakaan kereta api pengangkut pekerja pribumi di kawasan Kali Mati, Jakarta Utara. Berdasarkan pemberitaan De Express (7 April 1914), kereta berangkat dari Meester Cornelis (kini Jatinegara) menuju Tanjung Priok pukul 06.12 pagi.

Baca Artikel : Jalur KA Mati Kalisat–Bondowoso Berpeluang Direaktivasi

Kereta tersebut membawa para pekerja pribumi yang hendak bekerja di kawasan pelabuhan. Namun, di tengah perjalanan, tepatnya saat melintas di Kali Mati, kecelakaan besar terjadi. Penyebabnya sangat tak terduga, yakni seekor kerbau mendadak menyeberangi rel.

"Sekitar 20 meter sebelum jembatan, terdapat seekor kerbau yang sedang makan rumput tiba-tiba menyeberang rel kereta. Masinis tidak sempat berhenti. Meskipun dia mengerem sekuat tenaga, tanpa hasil, tabrakan tak dapat dihindari," ungkap Bataviaasch nieuwsblad (2 April 1914).

Kereta yang melaju sekitar 30 kilometer per jam itu langsung menghantam kerbau hingga anjlok dan menabrak jembatan. Dampaknya sangat parah. Gerbong pertama hancur lalu terjun ke sungai bersama reruntuhan jembatan. Gerbong kedua menggantung di tepi jembatan, sementara gerbong-gerbong lain keluar dari rel.

Menurut Bataviaasch nieuwsblad (2 April 1914), suasana di lokasi kecelakaan sangat mengerikan. Gerbong-gerbong saling bertumpukan dan ringsek. Sebagian korban bahkan terjebak di gerbong yang tenggelam ke sungai.

"Ketika tiba di lokasi sekitar pukul 8 pagi, kami benar-benar tidak tahu apa yang kami lihat. Sangat mengerikan," ungkap reporter koran Belanda tersebut.

Jeritan korban terdengar bersahut-sahutan di lokasi kejadian. Tangis keluarga dan warga ikut memenuhi area kecelakaan. Warga yang datang berkerumun segera memanggil bantuan. Tak lama kemudian, dokter dan tenaga medis berdatangan untuk melakukan penyelamatan. Namun, keterbatasan alat membuat proses evakuasi berlangsung lama.

Kondisi korban saat ditemukan disebut sangat mengenaskan. Banyak yang mengalami luka berat di kepala dan patah tulang. Sejumlah korban ditemukan sudah meninggal dunia. Meski begitu, ada pula yang masih bertahan hidup dan menjadi korban terakhir yang selamat, salah satunya seorang petugas rem.

"Setelah beberapa waktu, mereka berhasil membebaskan pria itu. Ternyata dia adalah seorang petugas rem. Dia masih hidup. Tapi sangat mengerikan melihat tubuhnya karena dipenuhi banyak luka. Di sana, di tempat roda menekannya, ada luka menganga besar. Darah benar-benar mengalir. Kepalanya hancur, sementara luka besar juga terlihat di dada," ungkap koran tersebut.

Dalam penyelidikan, mengutip surat kabar Nieuwe Tilburgsche Courant (6 Mei 1914), tercatat 24 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Masinis selamat, tetapi harus menjalani perawatan cukup lama.

Baca Artikel : Reaktivasi Jalur KA Cipatat-Padalarang Pakai Jalur Baru, Ini Rutenya

Hasil penyelidikan polisi menyebut penyebab utama kecelakaan memang murni karena kerbau tersebut. Hewan itu awalnya sedang mencari makan di sekitar rel, lalu tiba-tiba lepas dari rombongan dan menyeberang tepat saat kereta melaju. Akibatnya, tabrakan pun tak dapat dihindari.

Pasca kejadian, perusahaan kereta api disebut mulai mempertimbangkan pemasangan pelindung di bagian depan lokomotif serta pagar di sepanjang rel untuk mencegah kecelakaan serupa terulang kembali.

Wiji Nurhayat

Wiji Nurhayat - Penulis yang menyukai perkembangan perkeretaapian di Indonesia, maniak investasi, serta badminton lover.

Posting Komentar

Thanks for reading! Suka dengan artikel ini? Please link back artikel ini dengan sharing buttons di atas. Thank you.

Lebih baru Lebih lama